Yang dirasakan petani saat puasa
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ibadah puasa kita telah memasuki fase sepuluh hari atau sepertiga ke dua bulan Ramadan. Menurut sebuah hadits Nabi SAW, pada sepuluh hari atau sepertiga pertama bulan Ramadan Allah melimpahkan anugarahNya (rahman) kepada orang-orang yang menunaikan ibadah puasa. Pada sepertiga ke dua Allah membukakan pintu ampunan (magfirah). Sedangkan pada layaknya terakhir Allah membebaskan orang-orang yang menggerakkan ibadah puasa berasal berasal berasal dari ancaman dan siksaan neraka (ifkun minan-nar).

Hadits di atas pada prinsipnya menggambarkan bahwa bulan Ramadan adalah bulan yang dimuliakan Allah dan maka berasal berasal dari itu penuh berkah, yang didalamnya Allah terhubung lebar-lebar pintu rahmat, ampunan dan pembebasan diri berasal berasal berasal dari siksa neraka. Tetapi janji Allah berikut tentu cuma saja berlaku bagi orang-orang yang menggerakkan ibadah puasa bersama dengan imanan wa ihtisaban (iman dan mawas diri atau ikhlas).

Oleh gara-gara itu di dalam perjalanan selesaikan amalam ibadah puasa beserta rangkaiannya di hari-hari sepertiga ke dua bulan Ramadan th. ini, ada baiknya kita melakukan intropeksi-diri dan evaluasi-diri apakah ibadah puasa kita telah mencukupi kualifikasi imanan wa ihtisaban. Tulisan ini coba perhatikan masalah berikut bersama dengan mengaitkannya bersama dengan fenomena sosial-ekonomi di dalam kehidupan masyarakat, yakni fenomena kenaikan harga bahan pangan dibulan Ramadan dan masalah kesejahteraan petani.

Puasa di dalam bahasa Arab bermakna shaum. Secara harfiah kata shaum bermakna menghindar diri. Dalam arti fikih, shaum adalah menghindar diri berasal berasal berasal dari makan dan minum serta segala suatu perihal yang membatalkan puasa berasal berasal berasal dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Dari arti etimologis dan terminologis, bersama dengan demikian bisa dimengerti bahwa prinsip pokok di dalam ibadah puasa adalah pengendalian diri (self-control). Salah satu manifestasi utama berasal berasal berasal dari pengendalian diri di dalam pelaksanaan ibadah puasa adalah pengendalian pada konsumsi. Karena itu, jikalau ibadah puasa dilaksanakan bersama dengan benar, yakni cocok bersama dengan prinsip pengendalian diri, maka pada bulan puasa harusnya berjalan penurunan tingkat mengkonsumsi di lingkungan penduduk Islam.

Akan tetapi, kenyataan di dalam penduduk muslim, terlebih di Indonesia, justru menunjukkan sebaliknya. kehadiran bulan puasa atau bulan Ramadan tetap diiringi bersama dengan kenaikan harga-harga kepentingan bahan pokok niat sholat idul adha, yang sering kadang cukup tajam, umumnya telah merasa berjalan sejak dua atau lebih-lebih tiga minggu sebelum waktu waktu bulan puasa. Kondisi harga baru merasa pulih sesudah satu atau dua minggu pasca lebaran.

Pertanyaannya adalah, mengapa kedatangan bulan puasa pada masing-masing th. tetap diiringi bersama dengan harga bahan-bahan kepentingan pokok? Teori pasar mengatakan, pada lain, bahwa kenaikan harga berjalan seumpama keinginan meningkat tepat pasokan tetap. Itu bermakna kenaikan harga kepentingan pokok pada masing-masing memasuki bulan puasa adalah disebabkan oleh keinginan penduduk yang meningkat pada bahan kepentingan pokok pada bulan puasa. Dengan kata lain, tingkat mengkonsumsi penduduk muslim di bulan puasa adalah justru lebih tinggi dibandingkan bersama dengan bulan-bulan di luar puasa.

Bila benar bahwa kenaikan harga bahan pangan pada masing-masing memasuki bulan puasa itu mengindikasikan tingkat mengkonsumsi penduduk muslim di bulan puasa adalah lebih tinggi dibandingkan bersama dengan bulan-bulan tak cuma puasa, maka agaknya ada suatu perihal yang tidak benar di dalam praktik puasa kita sepanjang ini. Boleh jadi ibadah puasa yang kita melakukan sepanjang ini telah kehilangan esensinya sebagai latihan spiritual pengendalian diri untuk membantuk spesial muttaqin. Sementara bulan puasa cuma bermakna pergeseran jadwal tepat makan, berasal berasal berasal dari siang ke malam hari, tetapi tingkat mengkonsumsi yang lebih tinggi berasal berasal berasal dari biasanya.

Karena ibadah puasa yang kita melakukan sepanjang ini telah kehilangan esensinya sebagai latihan spiritual pengendalian diri, maka tidak mengherankan seumpama ibadah puasa yang kita melakukan th. demi th. seakan-akan tidak beri tambahan dampak apa-apa bagi perbaikan moralitas kehidupan kita di dalam bermasyarakat dan bernegara.

Untuk cuma ilustrasi, di dalam ceramah-ceramah Ramadan sering dikemukakan bahwa tidak benar satu hikma puasa adalah membentuk spesial yang disiplin. Tetapi sesudah berakhirnya libur lebaran pada masing-masing th. kita tetap disuguhi berita oleh daerah elektronik maupun cetak bahwa pada hari-hari pertama, kedua, lebih-lebih sampai kelima sesudah libur lebaran sejumlah kantor pemerintahan tetap lengang. Itu bermakna sejumlah pegawai kantor yang telah berpuasa sepanjang satu bulan saja tidak jadi pegawai yang disiplin.

Karena ”sesuatu yang salah” pada puasa kita adalah terdapat pada praktik pelaksanannya, bukan pada ajarannya, maka adalah kewajiban kita masing-masing untuk membenahi praktik ibadah puasa kita pada hari-hari yang tetap tersisa di bulan Ramadan ini dan terhitung pada tahun-tahun berikutnya. Perbaikan praktik puasa kita kudu mengacu pada prinsip pokok ibadah puasa itu sendiri, yakni prinsip pengendalian diri.

Di atas telah dikemukakan bahwa kedatangan bulan puasa tetap disertai bersama dengan kenaikan harga bahan-bahan kepentingan pokok atau bahan pangan. Masalahnya adalah, mengapa kenaikan harga bahan-bahan pangan tetap mengiringi kedatangan bulan puasa pada masing-masing th. ini tidak berdampak peningkatan kesejahteraan petani sebagai produsen pangan?

Pertanyaan yang dikemukakan terakhir di atas tidak secara khusus perihal bersama dengan ibadah puasa. Tetapi moment puasa yang tetap mempunyai dampak pada kenaikan harga pangan bisa jadi wahana untuk melihat lebih jernih masalah tersebut.

Menurut lebih berasal berasal dari satu pengamat, sejak Indonesia menerapkan revolusi hijau, para petani sebagai produsen bahan pangan secara berlahan tercerabut atau dipaksa tercerabut berasal berasal berasal dari kebudayaan tani yang diwarisi secara turun-temurun untuk sesudah itu digantikan secara sepihak bersama dengan cara kebudayaan saudagar bangsa lain yang lebih unggul modal dan teknologinya. Dalam perkembangannya, di bawah proses neoliberalisme dan pasar bebas, petani bukan saja tercerabut berasal berasal berasal dari kebudayaan tani warisan nenek moyang tetapi dirampas dan dinafikan kedaulatannya.

Dalam proses neoliberalisme dan pasar bebas, mekanisme pasar dikuasai saudagar-saudagar obat-obatan pertanian dan benih yang dipatenkan. Para saudagar yang bernaung di bawah perusahaan multinasional itulah yang sesudah itu menguasai pangan berasal berasal berasal dari proses produksi, alat produksi, asupan, konsumsi, dan distribusinya. Sementara para petani cuma ditampakkan sebagai kuli di dalam produksi pangan.

Karena menguasai pangan berasal berasal berasal dari hulu sampai hilir, maka perusahan-perusahaan multinasional sekaligus sebagai pemegang otoritas di dalam pilih harga. Dalam penentuan harga pertimbangannya tentu saja bahwa mereka menangguk keuntungan yang sebesar-besarnya. Sementara dipihak lain, petani yang dirampas dan dinafikan kedaulatannya tidak ikut nikmati keuntungan berasal berasal berasal dari perdagangan bahan pangan yang mereka produksi. Ironinya, waktu harga pangan jatuh, petani ikut merasakan dampak krisisnya.

Dengan demikian, masalah mengapa kenaikan harga pangan tidak atau kurang berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani adalah gara-gara petani tidak lagi jadi tuan atas hasil pertanian mereka sendiri. Dan, semua itu berjalan gara-gara ada kebolehan proses yang tidak mempunyai mekanisme proses pengendalian diri. Dalam konteks inilah ibadah puasa hendaknya tidak cuma cuma membentuk pengendalian diri pada spesial seorang muslim, melainkan terhitung kudu diaktualisasikan sebagai kebolehan pendorong untuk melawan proses yang tamak.

sumber gambar : https://www.abiabiz.com


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

FavoriteLoadingFavorit

Tentang penulis