Swasembada Kesehatan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Swasembada Kesehatan
Oleh : Inang Winarso

Konsep Sehat Sakit
Swasembada kesehatan tidak begitu populer di kalangan masyarakat bahkan di kalangan pemerintah dan akademisi serta para aktivis. Bahkan tidak pernah dibahas. Pemahaman tentang kesehatan adalah suatu keadaan sakit yang perlu dipulihkan menjadi sehat. Atas dasar itulah maka prinsip yang diyakini adalah yang penting bisa sehat kembali, meskipun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Dogma yang ditanamkan ke masyarakat adalah kesehatan itu mahal harganya. Maka janganlah masyarakat mempersoalkan berapa harga yang harus dikeluarkan untuk biaya kesehatan. Ajaran itu telah merasuk ke dalam persepsi masyarakat.
Masyarakat ingin selalu dalam keadaan sehat, hanya karena satu alasan, agar bisa mencari uang. Maka kondisi sakit menurut masyarakat adalah ketika seseorang tidak bisa beraktifitas. Sehingga ketika seseorang sakit, banyak cara dilakukan untuk mengembalikan kondisi tubuhnya agar bisa beraktifitas dan produktif kembali. Sebaliknya kondisi sehat bagi masyarakat adalah ketika seseorang masih mampu melakukan aktifitas sehari-hari. Adanya konsep sehat-sakit seperti itu maka akan mempengaruhi metode pengobatan jika kesehatan seseorang terganggu. Paling tidak ada di Indonesia terdapat dua pola identifikasi penyebab seseorang menderita sakit, yaitu :
1. Personalistik
2. Naturalistik
Yang dimaksud dengan penyebab personal adalah ketika seseorang yang sakit menganggap bahwa sakitnya disebabkan oleh adanya intervensi dari suatu agen yang aktif, yang dapat berupa makhluk supranatural (makhluk gaib atau roh leluhur), maupun oleh manusia (ilmu sihir). Pada sistem ini, penyakit dilihat sebagai agresi atau hukuman yang ditujukan kepada penderita untuk alasan-alasan yang bersifat personal.
Yang dimaksud dengan penyebab natural adalah ketika sakit disebabkan oleh ketidakseimbangan di dalam tubuh akibat faktor-faktor lingkungan alam dan sosial.
Kedua pola tersebut mempengaruhi cara seseorang mencari metode pengobatan. Jika dianggap lebih bersifat personalistik, maka si sakit akan mencari pertolongan kepada orang-orang yang memilki kekuatan supranatural untuk “membersihkan” gangguan mistik yang dikirim oleh orang lain. Ini biasa disebut dengan pengobatan supranatural melalui tangan dukun, kiai, pendeta dan sebagainya. Sedangkan pengobatan yang penyebabnya adalah faktor naturalistik, masyarakat memiliki dua kebiasaan yaitu dengan pengobatan modern dan pengobatan tradisional.

Pemaksaan Metode Pengobatan Tunggal
Di dunia kesehatan masa kini, masyarakat didikte untuk meyakini bahwa semua penyakit disebabkan oleh faktor natural dan pengobatan yang paling manjur untuk mengembalikan keseimbangan tubuh adalah dengan cara pengobatan modern. Hal-hal mistik dianggap tidak masuk akal dan tidak ada lagi di era modern sekarang. Sedangkan pengobatan tradisional dalam perspektif naturalistik dianggap tidak memiliki bukti ilmiah (evidence based) yang kuat dan meyakinkan secara akademik.
Kuatnya propaganda bahwa semua penyakit disebabkan oleh faktor-faktor naturalistik dan pengobatan yang terbaik dan ilmiah adalah pengobatan modern, maka paham personalistik dengan pengobatan mistisnya dan metode pengobatan tradisional di dalam paham naturalistik, lambat laun terpinggirkan dan hilang.
Pemaksaan metode tunggal yaitu pengobatan modern sebagai solusi bagi persoalan gangguan kesehatan masyarakat, membuat pemerintah tidak punya pilihan. Memang pengobatan modern tidak bisa diremehkan begitu saja karena telah terbukti mampu mengatasi kesakitan yang diderita oleh sebagian besar manusia. Karena metode pengobatan modern yang berasal dari luar negeri (baca : bangsa asing) dianggap sebagai solusi paling mujarab, maka hal itulah yang menjadi faktor pendorong komersialisasi sektor kesehatan di Indonesia saat ini.
Sehingga terciptalah ketergantungan di bidang teknologi dan metode pengobatan terhadap negara-negara Eropa Amerika Jepang dan negara negara di belahan utara. Bukan saja ketergantungan terhadap metode pengobatan, bahkan produksi obatpun juga tergantung dari luar negeri. Hampir seluruh kebutuhan teknologi dan pengobatan di Indonesia 85% masih tergantung dari luar negeri. Akibatnya hanya gara-gara teknologi dan metode pengobatan modern yang dikuasai bangsa asing, maka kedaulatan bangsa ini harus dikorbankan.

Kesehatan = Menegakan Kedaulatan Diri Sendiri, Bangsa dan Negara
Padahal menjadi sehat dan terus sehat, adalah bagian dari proses menegakkan kedaulatan atas diri sendiri, bangsa dan negara. Dari sejak kecil kita diajari bahwa sakit itu artinya ada fungsi yang tidak beres di tubuh kita. Maka kita diajari harus mencari bantuan pengobatan. Kalau persoalan penyakit hanya dipandang sebagai persoalan gangguan fisik atau jiwa, maka yakinlah kita tidak pernah mengkaitkan persoalan kesehatan dengan kedaulatan atas tubuh apalagi kedaulatan bangsa dan negara.
Jika pemerintah menunjukan bahwa semua biaya kesehatan menjadi tanggungjawab pemerintah dan pemerintah menyediakan anggaran untuk hal tersebut, maka kebijakan pemerintah itu tidak lebih hanya untuk memenuhi mandat konstitusi. Lalu apakah pemenuhan mandat konstitusi selalu menjadi bagian dari penegakan kedaulatan bangsa dan negara? Jawabnya : tidak! Pemenuhan hak kesehatan saat ini hanya sebatas kepatuhan terhadap perintah undang-undang. Tidak ada maksud dan tujuan dibalik itu semua kecuali hanya mempertimbangkan langgengnya kekuasaan dan komitmen politik sesuai janji kampanye. Sehingga tampak sekali betapa dangkalnya makna di balik motif pemenuhan hak kesehatan. Sementara dimensi lain yang lebih substansial yaitu kedaulatan bangsa dan negara seringkali dikorbankan.
Lalu bagaimana dengan swasembada kesehatan yang telah disebut di atas. Apakah pengertian dan prasyarat menuju tercapainya swasembada kesehatan hanya akan memenuhi hasrat kekuasaan politik penguasa dan menguntungkan secara ekonomi. Jawabnya : tidak! Swasembada kesehatan bukan hanya sekedar pemenuhan hak kesehatan dan kesehatan untuk semua (health for all) yang merupakan pemenuhan mandat konstitusi. Namun lebih dari itu ada makna yang luhur dalam terminologi swasembada yaitu kedaulatan, kemandirian, keberlanjutan, dan bebas dari ketergantungan.
Untuk memahami lebih dalam mengenai swasembada kesehatan, maka terlenih dulu akan diuraikan pengertian dasar dari swasembada kesehatan.
Istilah swasembada lazimnya dikenal sebagai terminologi yang biasa digunakan di bidang pertanian. Seperti jargon pada masa orde baru berkuasa yaitu : swasembada beras, swasembada kedelai dan sebagainya, intinya hanya berkisar pada konteks pangan. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, swasembada diartikan sebagai usaha mencukupi kebutuhan sendiri, dan diberi contoh adalah swasembada beras. Padahal jika mengacu kepada pengertian dalam kamus tersebut, maka tidak hanya soal pangan saja. Swasembada kesehatan, swasembada energi, swasembada teknologi dan lain-lain juga mengandung pengertian yang sama untuk menggambarkan bahwa usaha mensejahterakan rakyat di segala bidang kehidupan harus dicukupi dengan usaha sendiri. Oleh sebab itu secara lengkap bisa diartikan bahwa Swasembada Kesehatan bagi bangsa Indonesia adalah : usaha yang berasal dari kemampuan dan pengetahuan bangsa Indonesia di bidang kesehatan, dilakukan oleh bangsa Indonesia dan untuk mencukupi kebutuhan kesehatan bangsa Indonesia. Sehingga prinsip dari-oleh- dan untuk yang dijadikan syarat adanya swasembada dapat diwujudkan.
Yang dimaksud dengan usaha yang berasal dari kemampuan bangsa Indonesia di bidang kesehatan adalah, segala upaya yang dikerahkan untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat semua bersumber dari modal yang dimiliki bangsa Indonesia. Modal yang dimaksud adalah modal pembiayaan dan modal sosial. Modal pembiayaan merupakan penganggaran yang diperlukan untuk biaya atau pengeluaran pemerintah bagi sektor kesehatan. Pembiayaan kesehatan bukan berasal dari pinjaman luar negeri atau bantuan hibah donor asing. Pembiayaan kesehatan harus berasal dari pajak penghasilan asli pendapatan negara. Sehingga kita tidak lagi tergantung kepada bantuan negara atau lembaga luar negeri untuk membiayai kebutuhan kesehatan masyarakat. Jika kita masih mengandalkan bantuan bahkan hutang luar negeri untuk pembiayaan kesehatan, maka syarat mencapai swasembada kesehatan sudah gugur sejak awal.
Modal sosial adalah kapabilitas yang dimiliki oleh masyarakat yang bersumber dari kepercayaan (trust) masyarakat itu sendiri. Kepercayaan bahwa bangsa Indonesia mampu mengatasi segala persoalan di bidang kesehatan harus menjadi modal dasar untuk mencapai swasembada. Ketidakpercayaan ini biasanya muncul karena adanya propaganda dari kepentingan bangsa asing dan perusahaan-perusahaan farmasi komersial yang mengatakan bahwa metode mereka lebih baik dan sudah teruji dan terjamin. Propaganda ini layaknya pedagang yang menjajakan barangnya sebagai barang yang paling baik. Dan celakanya banyak dari masyarakat kita yang termakan oleh propaganda itu, sehingga muncul ketidakpercayaan terhadap pengetahuan dan teknologi yang dikuasai oleh tenaga kesehatan Indonesia. Jika kita masih meragukan kemampuan bangsa Indonesia untuk mengatasi masalah kesehatan, maka syarat untuk mencapai swasembada juga gugur sejak awal.
Yang dimaksud usaha swasembada kesehatan yang berasal dari pengetahuan bangsa Indonesia, adalah segala ilmu dan teknologi di bidang kesehatan sejak jaman pra-sejarah hingga masa kini yang telah dikuasai oleh leluhur dan tenaga-tenaga ahli Indonesia. Sehingga budaya pengobatan yang merupakan warisan tradisi nenek moyang bangsa Indonesia misalnya jamu dan kemampuan spiritual yang masih ditemui di beberapa suku bangsa di Indonesia juga merupakan bagian dari pengetahuan yang dijadikan metode pengobatan untuk mengatasi masalah kesehatan. Bukan sekedar alternatif pengobatan saja, tapi pengobatan secara tradisional adalah bagian dari metode pengobatan yang diakui kemanjurannya. Sementara pengetahuan tenaga ahli Indonesia dengan menggunakan metode pengobatan modern harus dimaksimalkan dan dipacu untuk terus meningkatkan kapasitasnya melalui berbagai riset dan penemuan-penemuan baru pengobatan modern.
Swasembada kesehatan diupayakan oleh tenaga ahli Indonesia yaitu semua penyedia layanan kesehatan yang terdidik dan kompeten adalah anak-anak bangsa Indonesia sendiri, meskipun telah menimba ilmu di luar negeri. Sehingga kita tidak lagi tergantung kepada tenaga-tenaga asing untuk menyembuhkan penyakit yang diderita masyarakat Indonesia, dan masyarakat Indonesia juga tidak perlu berobat keluar negeri hanya sekedar mencari dokter yang lebih ahli dan kompeten. Karena semua sudah dikuasai oleh tenaga kesehatan dari indonesia. Maka kemampuan pembiayaan dari anggaran pemerintah Indonesia dalam konteks ini, juga termasuk biaya untuk riset dan pendidikan tenaga kesehatan Indonesia, agar meraih keahlian setinggi mungkin dan menguasai segala macam penyebab penyakit dan metode pengobatannya.
Swasembada kesehatan untuk masyarakat Indonesia, maknanya adalah swasembada ini bukan untuk kelompok yang mampu saja, dan bukan hanya untuk orang di kota saja, melainkan untuk seluruh rakyat Indonesia yang ada di kota dan dipelosok-pelosok desa yang terpencil tanpa membeda-bedakan tingkat ekonomi, sosial. agama, etnis, pendidikan, gender, termasuk juga memperhatikan warga disabilitas.
Maka swasembada kesehatan tidak sekedar pemenuhan hak kesehatan dan akses kesehatan untuk semua, namun lebih bermakna lagi karena dengan swasembada kesehatan maka kita menjunjung tinggi kedaulatan dan martabat bangsa Indonesia sebagai negara yang merdeka.
Untuk mencapai swasembada kesehatan dan mempertahankannya agar swasembada itu terus bisa memenuhi segala kebutuhan masyarakat yang ingin selalu sehat, diperlukan prasyarat sebagaimana di bawah ini :
Prasyarat untuk mencapai swasembada kesehatan adalah :
a. Kebijakan untuk menetapkan swasembada kesehatan sebagai cita-cita negara.
b. Pengorganisasian masyarakat
c. Penguatan jaringan kelompok di tingkat lokal dan nasional
d. Kampanye yang terus menerus,

Kebijakan pemerintah untuk menuju swasembada kesehatan sangat diperlukan terutama dalam sektor perdagangan misalnya soal paten obat-obatan dan teknologi kesehatan. Salah satu penyebab mahalnya biaya kesehatan adalah obat. Sehingga perlu terobosan kebijakan yang bisa mengurangi harga obat dan alat-lat kesehatan. Dan banyak lagi kebijakan yang diperlukan misalnya budidaya tanaman obat, pemerataan tenaga kesehatan, pembiayaan kesehatan tanpa iuran, rumah sakit tanpa kelas dan sebagainya.
Pengorganisasian masyarakat diperlukan untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki oleh pemerintah dan tenaga ahli Indonesia, bahwa kita mampu mengatasi masalah kesehatan masyarakat secara mandiri. Disamping itu pengorganisasian masyarakat diperlukan untuk mempertahankan budaya pengobatan tradisional yang telah terbukti efektif untuk menyembuhkan penyakit, dan sekaligus mengembangkan metode pengobatan tradisional itu menjadi bagian dari metode pengobatan yang secara resmi bisa dipilih oleh masyarakat.
Penguatan jaringan antar kelompok masyarakat di tingkat lokal dan nasional diperlukan untuk menyatukan suara dan komitmen kolektif bahwa swasembada kesehatan adalah cita-cita bersama. Pemahaman yang sama dan setara tentang makna swasembada kesehatan dari tiap kelompok masyarakat yang sudah terorganisir dan masyarakat dari tiap daerah perlu diupayakan agar tidak ada pertentangan yang bisa melemahkan pencapaian menuju swasembada kesehatan.
Kampanye terus menerus mengenai swasembada kesehatan, adalah strategi untuk mempertahankan bahwa swasembada diperlukan untuk jangka waktu yang sangat panjang. Bukan sekedar proyek jangka pendek atau pencitraan penguasa sesaat sebagai janji politik. Kampanye juga untuk memperkuat keyakinan masyarakat bahwa kemampuan dan pengetahuan tenaga ahli Indonesia tidak kalah jika dibandingkan dengan tenaga dari luar negeri. Kampanye harus menggunakan berbagai saluran media, yaitu media sosial, media cetak, media elektronik dan media tatap muka misalnya pertemuan, pertunjukan kesenian, kegiatan keagamaan, kegiatan adat, dan sebagainya.

Inang Winarso
Antropolog
0811992764
Inangw45@gmail.com


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading...

FavoriteLoadingFavorit

Tentang penulis