Momentum Reformasi Besar-besaran Sektor Pertanian
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki pulang menyebut bahwa ketika krisis ekonomi 1998, sektor Usaha Mikro Kecil & Menengah (UMKM) menjadi pahlawan ekonomi. Saat itu, para pelaku UMKM menaikkan ekspor sebanyak 350 %. Untuk itu, di masa pandemi Covid-19 ini, pemerintah akan mendorong sektor pertanian menjadi buffer atau penyangga ekonomi nasional, sesuai arahan Presiden Joko Widodo.

"Situasi Covid-19 ini dijadikan menjadi momentum buat reformasi besar-besaran dalam kebijakan sektor pangan pada Indonesia, menurut aktivitas on farm menuju off farm, dengan memberikan nilai tambah aktivitas usaha tani melalui pengolahan produk pertanian maupun pengembangan bisnis berbasis koperasi," istilah Teten dalam keterangannya, Jumat (12/6).

Direktur Pangan dan Pertanian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Anang Noegroho menyampaikan, bahwa dalam kuartal 1 2020 pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, & perkebunan, menurun sebesar 1,17 persen (YoY), pada hal produksi tumbuhan pangan menurun hingga 10,31 persen, ad interim jasa pertanian sampai -1,39 %.

"Penurunan tadi disebabkan sang kekurangan energi kerja musiman di taraf petani, karena berlakunya pembatasan pergerakan antar daerah, hambatan distribusi input (pupuk, bibit, dsb.) dan penurunan daya beli masyarakat lantaran banyaknya PHK," istilah Anang.

Menurut Anang, poly bisnis sektor Food and Baverage (F&B) yang terpaksa tutup, sehingga mengakibatkan anjloknya harga mobil honda 2020 terhadap komoditas pangan & rusaknya beberapa komoditas pertanian. Untuk itu, diperlukan adanya dukungan berdasarkan pemerintah pada melindungi dan mensejahterakan petani, dan koperasi dipilih sebagai jalan buat mewujudkan hal tersebut.

Sementara itu, Kabag Perencanaan Wilayah Kementerian Pertanian, Hermanto, menyatakan, acara korporasi petani sudah resmi dimasukkan ke pada RPJMN periode 2020–2024 menggunakan target terbentuknya minimum 350 korporasi petani, 5 % peningkatan produktivitas setiap tahunnya, & peningkatan penghasilan minimum Rp64 juta/petani/tahun.

"Namun, permasalahan yg menghambat perkembangan koperasi waktu ini adalah integritas pengurus-pengelola, serta budaya sosio-ekonomi petani (norma menjual secara tebasan & panen raya)," ujar Hermanto.


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

FavoriteLoadingFavorit

Tentang penulis