•  
  •  
  •  
  •  
  •  

masyarakat di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, masih mempertahankan budaya ngarot yaitu simbol perlawanan terhadap industrialisasi yang menggeser budaya agraris

Ngarot selalu dilakukan bagi mereka yg belum menikah yaitu bujang dan gadis. Mereka diajarkan ilmu bercocok tanam semisal panen setahun 2 kali

Indramayu miliki lahan sawah 116.000 hektar menggunakan produk domestik regional bruto sektor pertanian 17,9 persen. Jauh dibandingkan industri dan pengolahan yg mencapai 44,69 %

Merawat tradisi leluhur, artinya bentuk kearifan petani di Jawa Barat menjaga budaya agraris sekaligus kritik kepada pemerintah terhadap sejumlah dilema yg wajib diselesaikan petani sendiri, terutama stabilitas harga

Jelang demam isu tanam padi, umumnya di Desa Sidajaya, Kecamatan Cipunegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat, digelar perayaan berkah bumi. tetapi kini , budaya tadi tidak terlihat lagi.

program itu, telah tidak diminati. semua berubah semenjak pertanian dinilai tak menguntungkan lagi,” kata Kasman [60] petani setempat.

Kasman yang sudah 40 tahun bertani, mengaku acara itu memudar sejalan menggunakan peralihan lahanlahan pertanian menjadi tempat industri. Pertanian memang kerap besar pasak daripada tiang. “Apalagi bagi petani berlahan di bawah 2 hektar atau petani tanpa lahan,” terangnya.

Berjarak 60 kilometer asal Kabupaten Subang, tepatnya di Desa Lelea, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, upaya mempertahankan eksistensi mirip budaya berkah bumi masih dipertahankan. Sebagian warga harga kucing anggora di sini, setia merawat tradisi ngarot yg telah sebagai warisan leluhur ratusan tahun tersebut. Ritual memasuki ekspresi dominan tanam merupakan simbol perlawanan terhadap industrialisasi yg menggeser budaya agraris.

Ngarot selalu dilaksanakan para kasinoman [muda-mudi]. kondisi ikut upacara adat ini adalah mereka yg belum menikah yaitu bujang serta gadis. pada dasarnya, mereka akan diajarkan ilmu bercocok tanam.

Melalui tradisi ini, remaja diajarkan bertani sejak dini. Semisal, aturan panen hanya dilakukan setahun dua kali. “Bagi masyarakat Lelea, ngarot hanya cara menjaga pertanian dipertahankan. Pesan arif asal tradisi ini merupakan persawahan tidak beralih fungsi,” ungkap Sasmita [64], tokoh warga .

Secara administratif, Desa Lelea mempunyai luas 422 hektar yg lebih kurang 380 hektar merupakan pesawahan. sejak 370 tahun berlalu, rakyat Lelea melestarikan ngarot waktu sejumlah desa tetangga tidak lagi rutin menjalankannya.

Laju industri telah merambah persawahan pada lumbung padi Jawa Barat ini. Dikutip asal Kompas edisi 4 Januari 2018, Indramayu miliki huma sawah 116.000 hektar menggunakan produk domestik regional bruto sektor pertanian 17,9 %. Jauh dibandingkan industri serta pengolahan yg mencapai 44,69 %. adalah, pertanian bukan lagi kekuatan ekonomi Indramayu.

di Batu Jaya, Kabupaten Karawang tak terdapat jua seremoni serupa. Sekalipun Karawang dikenal menjadi lumbung padi nasional sekaligus penghasil padi terbesar ke dua selesainya Indramayu. saat ini huma sawahnya terancam seiring berkembang industri.

Sejumlah penari berasal majemuk umur melakukan tarian Goyang Karawang, pada Desa Batu Jaya, Karawang. pada mulanya Goyang Karawang sangat erat kaitannya dengan budaya agraris.

Akibatnya, kearifan lokal yg mulai hilang artinya Goyang Karawang. Tradisi ini kerap digelar menjelang panen raya yg disambut sukacita petani. gerak tarian yang dimainkan sang wanita, sejatinya diadopsi asal proses produksi padi sampai sebagai beras. sementara irama yg tercipta, dihasilkan asal tumbukan lesung dengan alu sambil diiringi lantunan kawih-kawih Sunda [lagu khas Sunda].

ad interim itu, di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, ketidakjelasan stabilisasi harga menghasilkan petani sayur sering menanggung rugi. Buntut kekecewaan, mereka mengumpulkan 23 ton tomat busuk sebab tidak dipanen. Bukan sebab tidak laris dijual, tetapi sebab harganya yang jatuh. Tomat-tomat itu dikumpulkan buat dilemparkan. Seiring berjalan saat, lemparan ini yg mendasari petani mengadakan Festival Perang Tomat di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidan.

Bagi Nanu Munajar Dahlan [59], penggagas acara perang tomat, tradisi ini bukan hiburan semata. Lebih dari itu, dia menginginkan semua pihak sadar dan paham, poly persoalan yg ditanggung petani.

Mulai dampak perubahan alam yang mengkhawatirkan, lilitan utang kepada tengkulak, dan lemahnya peranan pemerintah terkait distribusi panen adalah sejumlah dilema yang menghasilkan petani sulit sejahtera.

Sejumlah masyarakat mengikuti Festival Perang Tomat di Lembang, Bandung Barat. Festival ini diselenggarakan menjadi bentuk rasa syukut atas yang akan terjadi panen sekaligus kritikan kepada pemerintah terkait kebijakan harga yg sporadis dikendalikan menjelang panen.

“Selain bersyukur atas panen, apa pun hasilnya, program ini awalnya artinya kritik bagi pemerintah. namun, Jika disebut menjadi program kesenian, itu urusan lain. Setidaknya, kami memiliki harapan esok hari yang akan terjadi panen dijual menggunakan harga ideal,” kata Nanu.

Tradisi yg hampir sama menggunakan perang tomat pada Spanyol ini, telah digelar lebih asal sewindu. Selama itu pula, para petani tetap melawan dengan cara mereka.


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

FavoriteLoadingFavorit

Tentang penulis