Desa di Aceh Haramkan Penggunaan WiFi di Tempat Umum
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Satu desa di Propinsi Aceh menerbitkan ketetapan mengharamkan penggunaan jaringan nirkabel (WiFi) sebab dipandang banyak disalahgunakan beberapa anak umur pelajar di lokasi itu.

Desa yang mengharamkan WiFi ini ialah Curee Baroh, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen. Ajakan itu dikeluarkan sesudah lewat musyawarah bersama dengan semua piranti desa ditempat yang diadakan Selasa kemarin.

Dalam ajakan hasil rapat itu dijelaskan, fakta larangan yalla shoot itu sebab banyaknya warung kopi di desa ditempat yang menyiapkan sarana WiFi gratis. Hal tersebut berefek beberapa anak dibawah usia ramai-ramai nongkrong di warung kopi untuk menjelajahi internet.
Beberapa anak didapati terhubung beberapa content pornografi dalam pekerjaan itu.

“Mengingat karena yang diakibatkan oleh jaringan WiFi yang mengakibatkan kerusakan generasi muda, khususnya beberapa anak dibawah usia, sebab WiFi saat ini sangatlah menjalar, karena itu dengan adanya ini sesuai hasil ketetapan rapat semua pemilik jaringan WiFi yang berada di Desa Curee Baroh harus tidak diaktifkan/di stop selekasnya,” demikian bunyi ajakan itu

euchik (Kepala Desa) Curee Baroh, Helmiadi Mukhtaruddin waktu di konfirmasi CNNIndonesia.com menerangkan larangan itu cuma berlaku untuk tempat umum seperti warung kopi. Tetapi, tidak berlaku buat pemakaian WiFi di dalam rumah pribadi.

“Sebab mengingat WiFi memang besar sekali faedahnya buat orang yang memahami mengenai penggunaan WiFi. Tetapi buat anak yang masih SD, SMP, SMA tidak teratasi oleh mereka,” tutur Helmiadi , Jumat (23/11).

Helmiadi menjelaskan sekarang ini di wilayahnya ada enam warung kopi yang menyiapkan sarana WiFi gratis.

Bermula dari Aduan Pengurus Balai Pengajian

Sebelum keluarkan ajakan itu, Helmiadi menjelaskan piranti desa terima beberapa aduan dari beberapa pengurus balai pengajian yang merasakan beberapa anak bolos pada pukul mengaji untuk nongkrong di warung kopi.

Berdasar pada hasil pencarian, pihaknya merasakan kegiatan beberapa anak terhubung beberapa konten pornografi.

“Dari rumah tuturnya pergi mengaji, tetapi nyatanya bolos,” tuturnya.

Sebelum ajakan itu di tandatangani, pihak desa terlebih dulu menunjukkan butir-butir hasil rapat itu pada Camat, Polsek, Kepala Kantor Masalah Agama (KUA), serta Koramil.

“Mereka memberi dukungan kebijaksanaan kami,” tutur Helmiadi.

Menurut Helmiadi, jika sesudah ajakan dikeluarkan tidak diindahkan karena itu pihaknya akan meniti jalan hukum dengan memberikan laporan ke pihak muspika.

“Berkaitan hukuman akan ditetapkan oleh Muspika. Tetapi bila muspika tidak mampu memberikan sangsi, karena itu kami akan memberikan sangsi,” tutur Helmiadi.


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading...

FavoriteLoadingFavorit

Tentang penulis