Pencatatan Kelahiran Anak Upaya Menguatkan Hak Anak dalam Pemerintahan Desa
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh:  Inang Winarso

Materi ini disiapkan untuk bahan diskusi ahli bertajuk “Pelayanan Publik Desa”  dimohon komentar dan masukannya dari para pemangku kepentingan.

Menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir sebagai salah satu indikator kunci di dalam target pencapaian pembangunan berkelanjutan, merupakan upaya yang sangat berat dan hingga kini masih belum memenuhi harapan kita semua. Berbagai upaya sudah dilakukan, sejumlah dana juga sudah digelontorkan, semua potensi dikerahkan, namun tetap saja target yang ditetapkan tidak kunjung tercapai. Tampaknya masalah nasional ini memerlukan kajian ulang dan mendalam, untuk mempelajari faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kasus kematian ibu hamil-melahirkan dan bayi tidak bisa diturunkan secara bermakna. Sekaligus mencari peluang kekuatan apa saja yang ada dimasyarakat yang bisa dimanfaatkan untuk mempercepat proses penurunan angka kematian tersebut.

Siklus Hidup Manusia

                  Masyarakat memiliki seperangkat nilai budaya sebagai acuan bertindak dan berinteraksi dengan sesama manusia, lingkungan alam dan pemilik kekuatan spiritual. Kelahiran bagi masyarakat di perdesaan dan perkotaan merupakan bagian dari siklus kehidupan yang selalu menjadi peristiwa yang sangat penting. Siklus kehidupan yang dikenal oleh suku bangsa di Indonesia biasa disebut sebagai tahap-tahap kehidupan. Tahapannya dimulai dari kelahiran, lepasnya tali pusat bayi, bayi mulai bisa berjalan atau turun ke tanah, anak laki-laki disunat, menstruasi pertama untuk anak perempuan, pertunangan, perkawinan, kehamilan dan kematian, demikian seterusnya siklus itu seperti layaknya roda berputar. Ada suku bangsa yang lebih detail lagi melakukan ritual sebagai tanda dalam setiap tahapan peralihan kehidupan manusia. Masing-masing suku bangsa bisa berbeda-beda dalam membuat tanda bagi peralihan pada siklus hidup manusia.

Namun secara garis besar, paling tidak ada empat tahap peralihan di dalam siklus kehidupan manusia yang berada pada situasi yang sangat kritis secara sosial maupun kritis secara biologis. Tahapan itu adalah : perkawinan, kehamilan, kelahiran dan berakhir kematian. Kelahiran dianggap penting karena pada saat itu ada risiko kematian bagi si ibu dan si bayi. Itulah sebabnya masyarakat selalu memberi perhatian besar pada peristiwa kelahiran. Pada dasarnya keluarga dan masyarakat mengharapkan si ibu dan si bayi semuanya sehat dan selamat. Bentuk perhatian terhadap proses kelahiran dan bayi yang baru dilahirkan diwujudkan dalam bentuk upacara-upacara yang beragam.

Budaya yang masih hidup dan tumbuh di masyarakat dalam konteks pembangunan merupakan modal sosial yang tidak ternilai harganya. Karena bisa dioptimalkan untuk menunjang program pembangunan termasuk pembangunan kesehatan. Namun ada juga budaya yang menurut kacamata aparatus kesehatan justru membahayakan atau berisiko menimbulkan kematian atau kesakitan. Contohnya : memotong tali pusat dengan bilah bambu. Atau memberi makanan yang dilumatkan oleh mulut seorang nenek kepada bayi. Atau membiarkan ibu bekerja di ladang meskipun usia kehamilannya sudah mendekati kelahiran.

Oleh sebab itu maka harus dilakukan kajian terhadap budaya masyarakat yang mampu melindungi ibu hamil-melahirkan dan bayi dari ancaman kematian serta yang bisa membahayakan kesehatan ibu dan anak.

Unsur Budaya

              Seperangkat unsur budaya yang dominan yang menjadi latar belakang tinggi atau rendahnya kematian ibu dan bayi di suatu daerah, sebagai berikut :

Sistem Kepercayaan seluruh aspek yang berkaitan dengan kepercayaan atau agama.
Sistem Pengetahuan kemampuan masyarakat yang diperoleh melalui proses belajar dari keluarga dan tradisi, termasuk yang berkaitan dengan perawatan dan pengobatan bagi ibu hami dan bayi.
Sistem Kekerabatan organisasi sosial yang sudah diwariskan turun temurun dan masih berlaku hingga kini, termasuk didalamnya mengenai aturan perkawinan.
Sistem Matapencaharian cara masyarakat mendapatkan sumber pangan diantaranya pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kerajinan, dan sebagainya

Kaitan keempat unsur tersebut dengan penyebab kematian ibu dan bayi contohnya di sistem kepercayaan, bahwa kematian ibu yang melahirkan disebabkan karena mengalami kesulitan bersalin, diyakini karena ada roh jahat yang menghalangi jalan lahir. Atau bayi yang meninggal karena batuk berdarah karena ada orang yang mengirim guna-guna. Ada juga kepercayaan bahwa kematian adalah takdir yang tidak bisa ditolak, karena Tuhan telah berkehendak.

                  Sistem pengetahuan juga mempengaruhi cara pandang masyarakat dalam menyimpulkan penyebab kematian. Misalnya bayi meninggal karena panas, artinya terjadi ketidakseimbangan suhu tubuh. Maka untuk menyeimbangkan perlu diberi air dingin dan diberi air panas jika suhu bayi dingin. Pengetahuan ini mempengaruhi cara pengobatan dan perawatan bagi bayi atau ibu hamil yang berisiko.

                  Seringkali kita mendengar bahwa keputusan untuk memilih layanan kesehatan untuk pemeriksaan kehamilan dan persalinan sangat tergantung kepada sistem kekerabatan yang mengacu kepada tata aturan di dalam keluarga tentang siapa yang berwenang mengambil keputusan. Demikian dominannya pengambil keputusan di dalam keluarga, sehingga persoalan krisispun harus meminta restu kepada yang berwenang itu. Proses pengambilan keputusan yang paternalistik ini seringkali memperlambat penanganan ibu dan bayi yang menghadapi risiko kematian, sehingga terjadilah yang dikenal dengan terlambat mendapatkan penanganan kegawatdaruratan kehamilan atau persalinan.

Disamping itu sistem matapencaharian juga mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi. Asupan gizi yang dikonsumsi setiap hari oleh ibu hamil atau bayi, tergantung kepada sumber pangan yang tersedia dan pola makan pada masyarakat tersebut. Keterbatasan sumber pangan dan pola makan yang tidak bergizi, sering menjadi masalah laten yang mengancam ketika masa kehamilan yang dikenal dalam dunia medis sebagai kekurangan energy kronis (KEK). Pengaruh sistem matapencaharian terhadap sumber pangan dan pola makan bayi juga akan berdampak kepada baik buruknya gizi si bayidi kemudian hari.

Rekomendasi

                  Pemerintah perlu melakukan pendekatan yang lebih mendalam untuk mengetahui latar belakang penyebab kematian ibu dan bayi di suatu daerah. Pendekatan kebudayaan seharusnya dipilih pemerintah untuk tidak menyeragamkan bentuk program dalam upaya mencegah kematian ibu dan bayi. Beberapa rekomendasi yang perlu dicatat adalah sebagai berikut :

  1. Untuk aparatus kesehatan :
  2. Pemahaman mengenai budaya masyarakat di lingkungan wilayah puskesmas sangat diperlukan oleh tenaga kesehatan.
  3. Pembekalan perspektif antropologi bagi tenaga kesehatan disemua tingkatan menjadi modal utama dalam menjalankan fungsi pelayanan yang sesuai dengan konteks budaya masyarakat, sehingga mampu mengindentifikasi faktor nilai dan budaya yang berpotensi menurunkan risiko kematian ibu dan bayi.
  4. Mengembalikan fungsi dasar Puskesmas sebagai unit pelayanan yang berbasis kewilayahan. Bukan pelayanan berdasarkan kasus-kasus penyakit. Basis kewilayahan bukan hanya teritori secara geografis, namun juga teritori secara sosial budaya. Teritori sosial budaya bukan dibatasi secara fisik lokasi daerah administratif, namun dibatasi oleh batas batas adat dan kekerabatan.
  1. Intervensi program kesehatan harus berbasis kultur dan struktur masyarakat sehingga terjadi penerimaan sosial untuk mendorong partisipasi kolektif masyarakat.

  1. Untuk Pemerintah Desa :
  2. Pemerintahan Desa harus memiliki data kebudayaan yang masih berlaku di masyarakat. Khusus mengenai kesehatan ibu dan bayi perlu dicatat data yang mengenai :
    1. sistem kepercayaan masyarakat,
    2. sistem pengetahuan terutama mengenai konsep sehat dan sakit,
    3. sistem kekerabatan terutama mengenai siapa yang berwenang pengambil keputusan penting di dalam keluarga luas,
    4. sistem matapencaharian yang dilengkapi dengan sumber pangan yang biasa dikonsumsi oleh penduduk Desa khususnya oleh remaja perempuan, ibu, dan bayi beserta pola makannya.
  3. Pemerintah Desa perlu membentuk sistem SIAGA (Siap – Antar – Jaga) di level RT/Dusun yang terdiri dari :
    1. Pencatatan dan identifikasi ibu hamil dan bayi
    2. Penyediaan transportasi untuk merujuk ke puskesmas dan rumah sakit
    3. Pendataan golongan darah penduduk dewasa yang sehat untuk mempersiapkan pendonor jika dibutuhkan
    4. Dana untuk membiayai kebutuhan rujukan, menjaga pasien selama perawatan, dan biaya lainnya yang tidak dicover oleh pemerintah.

Contoh keberhasilan menerapkan empat sistem SIAGA di Kota Cirebon mampu menurunkan kematian ibu melahirkan dan bayi secara bermakna.

  1. Pemerintah Desa perlu memiliki postur data kependudukan saat ini dan prediksi dinamika penduduk lima tahunan terutama kelompok usia produktif.

Apabila dua aspek dalam sector kesehatan saling bersinergi yaitu aspek demand dan aspek supply, dimana satu dengan lainnya saling mengerti dan memahami peran dan tanggungjawabnya, maka niscaya kesehatan ibu dan bayi akan meningkat dan akhirnya berdampak kepada peningkatan derajat kesehatan masyarakat pada umumnya.

              Rekomendasi khusus kepada pemerintah pusat adalah sebagai berikut : dalam membuat kebijakan perlu menggunakan prinsip : memperkuat faktor yang menurunkan risiko kematian dan mengeliminasi faktor yang meningkatkan risiko kematian pada ibu dan bayi dengan mempertimbangkan nilai budaya setempat.

              Apabila hal tersebut di atas dilaksanakan maka dengan mudah kita dapat mengidentifikasi akar penyebab, mengapa kematian ibu dan bayi terus terjadi. Dan jika kita mengetahui akar penyebabnya, maka dengan mudah kita merumuskan solusi mengatasi masalahnya.

                  Sekian.


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

FavoriteLoadingFavorit

Tentang penulis

~ Admin

Berbagi dan Maju Bersama Desa